UMKM Olahan Singkong Jasinga Berharap Bantuan Mesin Tingkatkan Kapasitas Produksi

Jasinga|Berisikbogor.com – Hampir delapan tahun membangun usaha, Nadia, pemilik UMKM Dapur Nadia Lintang di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, masih mengandalkan peralatan sederhana untuk memproduksi berbagai olahan singkong.

Sejak merintis usaha pada 2018, Nadia memproduksi opak, keripik, dan sejumlah pangan khas daerah. Produknya dipasarkan secara mandiri dan beberapa kali dibawa dalam kegiatan promosi UMKM.

Namun, di tengah upaya mengembangkan usaha, Nadia mengaku masih menghadapi kendala pada sisi peralatan produksi.

Ia menyebut telah mengikuti sekitar 10 kali pelatihan UMKM yang diselenggarakan pemerintah maupun instansi terkait. Pelatihan tersebut dinilai memberikan pengetahuan dan pengalaman, tetapi belum diikuti dukungan peralatan yang menurutnya dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

“Kalau pelatihan kita sering, sekitar 10 kali. Tapi alhamdulillah belum pernah ada bantuan seperti alat penunjang, seperti mesin potong atau mesin penggiling untuk efisiensi produksi,” ujar Nadia, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, mesin pemotong singkong dan mesin penggiling dapat membantu mengurangi waktu serta tenaga dalam proses produksi. Dukungan tersebut juga dinilai dapat membuka peluang bagi usahanya untuk memenuhi pesanan dalam jumlah lebih besar.

Keluhan Nadia bukan hanya terkait peralatan. Ia juga menyoroti dukungan yang diterimanya ketika mengikuti kegiatan UMKM tingkat wilayah.

Dalam rangkaian Hari Jadi Bogor (HJB) 2026, Nadia mengaku ikut menjaga stan UMKM Kecamatan Jasinga selama 14 hari. Dalam kegiatan tersebut, ia membawa produk olahan singkong miliknya sekaligus memperkenalkan produk pangan khas Jasinga.

Menurut Nadia, penjualan opak singkong miliknya bahkan dapat mencapai sekitar 300 kemasan dalam sehari.

Namun, ia mengaku sempat mempertanyakan dukungan yang diberikan selama mengikuti kegiatan tersebut, khususnya terkait uang makan bagi penjaga stan.

“Waktu itu ditawari jaga stan, katanya uang makan sehari Rp20 ribu. Saya bilang, sekali makan saja lebih dari segitu. Teman-teman dari kecamatan lain sehari mereka dapat Rp150 ribu. Akhirnya dikasih Rp100 ribu per hari,” ungkapnya.

Nadia mengatakan persoalan tersebut bukan semata soal besaran uang yang diterima. Ia berharap pelaku UMKM yang ikut membawa nama daerah mendapatkan perhatian dan penghargaan yang layak.

Ia juga mengaku pernah mendapat informasi mengenai rencana pemberian apresiasi dari pihak Kecamatan Jasinga atas keterlibatannya dalam kegiatan UMKM. Namun, menurut Nadia, apresiasi tersebut hingga kini belum terealisasi.

“Waktu itu juga bilangnya Pak Camat mau kasih apresiasi. Tapi sampai sekarang, boro-boro benar-benar bisa memfasilitasi solusi untuk kendala kita seperti mesin pemotong singkong. Pernah minta banner saja tidak pernah dibikinin,” katanya.

Di sisi lain, pemberdayaan UMKM dalam regulasi pemerintah tidak hanya mencakup pelatihan. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM mengatur pemberian kemudahan, pelindungan, dan pemberdayaan kepada UMKM melalui pembinaan dan pemberian fasilitas.

Kebijakan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari pengembangan usaha, pembiayaan, kemitraan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia hingga pemantauan dan evaluasi program pemberdayaan.

Dengan demikian, pelatihan menjadi salah satu bagian dari rangkaian pemberdayaan, bukan tujuan akhir.

Bagi Nadia, keberlanjutan program menjadi hal penting karena kebutuhan setiap UMKM berbeda. Pelaku usaha yang baru merintis mungkin membutuhkan pelatihan dasar, sementara usaha yang sudah memiliki produk dan pasar membutuhkan dukungan berbeda, termasuk teknologi produksi, pembiayaan dan pemasaran.

Kondisi tersebut yang kini dihadapi Dapur Nadia Lintang.

Setelah bertahun-tahun menjalankan usaha dan mengikuti berbagai pelatihan, Nadia berharap dukungan pemerintah dapat diarahkan pada kebutuhan yang lebih konkret agar kapasitas produksinya meningkat.

“Yang kita butuhkan itu alat untuk menunjang produksi supaya lebih cepat dan efisien,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya hadir ketika UMKM mengikuti pameran atau kegiatan seremonial, tetapi juga memberikan pendampingan setelah kegiatan selesai.

Bagi Nadia, keberadaan mesin produksi bukan sekadar bantuan barang. Peralatan tersebut menjadi salah satu modal untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar dan menjaga keberlangsungan usaha yang telah dibangunnya sejak 2018.

Kasus Dapur Nadia Lintang sekaligus menjadi gambaran bahwa keberhasilan program UMKM tidak cukup diukur dari jumlah pelatihan yang digelar atau jumlah peserta yang mengikuti kegiatan.

Lebih jauh, keberhasilan pemberdayaan dapat dilihat dari sejauh mana pelaku usaha mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pemasaran dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.

Nadia berharap perhatian tersebut tidak berhenti setelah pelatihan, sertifikat maupun kegiatan promosi selesai.

Ia ingin usaha yang dibangunnya dari dapur sederhana di Jasinga dapat terus berkembang dan membawa produk pangan lokal ke pasar yang lebih luas. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *